Text
Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film
Artikel ini menganalisis manifestasi kekerasan budaya pada masa Orde Baru di Indonesia melalui pemanfaatan sastra dan film sebagai aparatus ideologis negara untuk melegitimasi sentimen anti-komunisme pasca-peristiwa 1965. Dengan menggunakan kerangka teori kekerasan budaya Johan Galtung, studi ini membongkar bagaimana rezim militeristis mengonstruksi stigma, demonisasi, dan narasi tunggal mengenai peristiwa Gerakan 30 September (G30S) guna mengubah kekerasan struktural dan langsung terhadap kelompok kiri menjadi sesuatu yang dianggap sah, bermoral, dan bahkan suci. Melalui pembacaan kritis terhadap sejumlah karya sastra yang "direstui" penguasa serta analisis sinematik terhadap film-film propaganda seperti Pengkhianatan G30S/PKI, ditemukan bahwa media-media tersebut berfungsi secara efektif sebagai alat indoktrinasi massal dan rekayasa memori kolektif. Rezim Orde Baru berhasil menanamkan trauma sejarah mendalam dan melanggengkan pelarangan ideologis, yang pada gilirannya menjustifikasi marginalisasi berkepanjangan terhadap para penyintas serta keturunan mereka. Sebagai simpulan, kajian ini menegaskan bahwa kekerasan budaya melalui produk kesenian merupakan pilar krusial yang menjaga stabilitas hegemoni politik Orde Baru sekaligus menyisakan residu prasangka sosial yang masih bertahan dalam masyarakat Indonesia kontemporer.
| KP.XLII 0210 | 880 HER K | My Library (SASTRA 4) | Available |
No other version available