Library Picture

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title Suara perempuan korban tragedi '65
Edition Cet III, 2009
Call Number KP.V NAD s
ISBN/ISSN 979-23-9982-8
Author(s) Ita F Nadia
Hersri Setiwan
Islah Gusmian
Subject(s) Kekerasan terhadap perempuan
Tragedi 65
sejarah kelam Bangsa Indonesia
korban tragedi '65
Classification KP.V
Series Title
GMD Text
Language Indonesia
Publisher Galangpress
Publishing Year 2009
Publishing Place Yogyakarta
Collation 188 hlm. ; 23cm.
Abstract/Notes Pembantaian dan pemenjaraan massal yang terjadi pasca peristiwa G 30 S 1965 merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia.Saat itu,banjir darah terjadi antara pekan ketiga bulan Oktober hingga Desember 1965.Setengah juta rakyat dibunuh tanpa melalui proses pengadilan.Ratusan ribu orang dipenjara tanpa proses hukum.Teror dilakukan melalui mitos"Gestok","PKI" dan "Gerwani",korban dan anggota korban harus hidup dalam ketakutan dan kebisuan. Kisah tutur ibu-ibu korban tragedi 1965 dalam buu ini bukan sekadar untuk dimaknai dalam konteks pengalaman korban.Lebih dari itu,untuk memulihkan martabat kemanusiaan mereka dan mengakhiri kekerasan dan diskriminasi di negeri ini. Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah ada pelaku. Mereka si pelaku ini bukanlah subjek pasif karena mereka menikmati juga, menikmati tubuh-tubuh perempuan yang direndahkan dan disiksa secara sexsual itu. Karena alasan tugas atau strategi mereka si pelaku ini mempunyai ruang sebebas-bebasnya mengoyak tubuh-tubuh perempuan yang tidak berdaya ini. Bahkan ketika ada ruang kebebasan yang disahkan ini, mampu menjadikan manusia-manusia pelaku ini sebagai manusia yang super berani. Cerita moral yang diberikan ibu-ibu mereka, kaidah agama ataupun norma-norma sosial lenyap dalam kegagahan mereka saat melakukan penyiksaan. Kemachoan absolute mereka sebagai laki-laki pemberani muncul di bawah rasa takut perempuan yang disekap.
Buku ini dibuat oleh Ita F Nadia, ringan dibaca namun berat dicerna. Berat karena langsung menyentuh perasaan muak, sedih, jijik, sekaligus marah bahkan mungkin tidak kuat lagi untuk membacanya. Di sini akan terpampang secara blak-blakan bagaimana pahitnya sejarah untuk diingat. Ini adalah buku pengakuan beberapa perempuan yang disekap dan disiksa karena mereka dituduh sebagai komunis. Tidak ada cerita besar seperti terlibatnya CIA dalam tragedi itu, ataupun menceritakan masalah konflik internal TNI. Hanya memuat cerita dari kaum kecil tapi bermakna besar. Setelah anda membaca buku ini maka akan terbersit kengerian jika dimasa depan anak perempuan, saudara perempuan ataupun ibu kita mungkin akan mengalami penderitaan ini. Sudah pasti laki-laki yang menjadi dalangnya.
Membaca buku-buku sejarah tentang peristiwa 65 yang melulu bercerita tentang situasi politik Negara pada waktu itu, akan berbeda rasanya ketika membaca cerita-cerita dari korban-korbanya langsung. Mendengar cerita dari para korban, sejarah tragedi itu bukan lagi berada jauh. Bukan lagi cerita milik orang-orang besar yang terlibat dalam tragedi itu semisal para tokoh, para jendral, para menteri ataupun spionase asing. Cerita-cerita besar inilah yang menjadikan kejadian berdarah itu seolah-olah jauh dari dunia keseharian. Mendengar penuturan korban maka kengerian sejarah itu lebih terasa, dan membuat kita bertanya apakah salah satu dari keluarga kita terlibat. Tragedi berdarah itu bisa masuk ke ruang paling intim yang bisa merengut esksitensi orang yang kita cinta. Tragedi itu bisa masuk ke dalam rumah orang-orang biasa yang tidak tahu juntrung persoalannya seperti ibu-ibu ini. Umumnya mereka adalah masyarakat biasa yang sama sekali tidak tahu menahu alasan mereka dicabik-cabik. Ketika membaca ini kengerian timbul, apakah ke depan ini akan terulang jika terjadi kemelut melanda dunia politik orang-orang besar. Karena mungkin kita adalah bagian dari orang-orang biasa yang bisa saja jadi korban, walaupun sama sekali tidak mengerti akar pemicu malapetaka. Karena itulah sejarah penuturan korban tidak berada jauh, melainkan menjadikannya sangat dekat, dan mungkin kita adalah korban selanjutnya. Bisa jadi kita si laki-laki adalah bagian dari pelaku dikemudian hari.

Specific Detail Info CORNER MEI 98
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous