Text
Suara Pinggiran: Upah Naik: Ditangguhkan, Upah Murah di biarkan
Karya ini mengkritisi ironi kebijakan pengupahan nasional dari kacamata "suara pinggiran" yang mewakili kelompok buruh dan pekerja kelas bawah di Indonesia. Melalui analisis ekonomi politik ketenagakerjaan, ulasan ini membongkar paradoks di mana keputusan kenaikan upah minimum sering kali menghadapi jalan buntu akibat maraknya penangguhan oleh pihak pengusaha, sementara di sisi lain, praktik kelayakan upah murah dan eksploitatif justru terkesan dibiarkan tanpa sanksi hukum yang tegas. Tulisan ini menyoroti dampak sistemik dari lemahnya pengawasan negara terhadap kesejahteraan buruh, yang memperlebar jurang ketimpangan sosial dan memperpanjang rantai kemiskinan struktural. Dengan mengangkat resistensi serta jeritan dari akar rumput, kajian ini menegaskan urgensi reformasi regulasi pengupahan yang berkeadilan, transparansi dalam mekanisme penangguhan, serta penegakan hukum yang konsisten demi melindungi hak hidup layak kaum pekerja.
| KP.XXXVI 0191 | 050 TAM S | My Library (TERBITAN BERSERI 2) | Available |
No other version available